Anak Perusahaan Royal Golden Eagle Terus Membangun Pembangkit Listrik Biogas

 Royal Golden

Source: Inside RGE

Komitmen Royal Golden Eagle (RGE) untuk mengembangkan energi ramah lingkungan terbarukan terus terjaga. Hal ini ditandai dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga biogas yang mereka kerjakan.

Royal Golden Eagle merupakan korporasi yang berkecimpung dalam industri pemanfaatan sumber daya. Mereka berdiri pada 1973 dengan nama awal Raja Garuda Mas.

Kala itu, ketika masih bernama Raja Garuda Mas, kayu lapis menjadi industri pertama yang digeluti. Namun, seiring waktu, bidang yang ditekuni bertambah. Mereka ganti melebarkan sayap ke industri kelapa sawit, pulp dan kertas, pengembangan energi, selulosa spesial, serta serat viscose.

 

Seiring berjalannya waktu, Raja Garuda Mas bertransformasi menjadi Royal Golden Eagle. Mereka melakukannya pada 2009. Hal itu menunjukan bahwa arah RGE sudah menuju ke pentas global.

Selama beroperasi, kelestarian lingkungan selalu menjadi perhatian utama RGE. Hal itu mereka tegaskan dalam filosofi bisnis perusahaan. Sejak 2016, Royal Golden Eagle memasukkan unsur kewajiban untuk aktif menjaga keseimbangan iklim dalam arahan kerja mereka.

Putusan itu berdampak penting. Kini semua pihak di dalam Royal Golden Eagle harus berusaha keras untuk menghadirkan dampak positif kepada alam dalam setiap operasinya.

Hal ini dijalankan dengan baik oleh salah satu anak perusahaan RGE, Asian Agri. Unit bisnis Royal Golden Eagle yang berkecimpung dalam industri kelapa sawit ini mewujudkannya dengan gencar meningkatkan penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan di perusahaannya.

Asian Agri konsisten melakukannya sejak 2015. Kala itu, mereka mengambil putusan besar dengan membangun pembangkit listrik tenaga biogas. Rencananya akan ada sebanyak 20 unit pada 2020 nanti.

Keseriusan Asian Agri tampaknya tidak bisa disepelekan. Hingga kini, mereka terbukti tetap mengejar target untuk mendirikan 20 pembangkit listrik tenaga biogas. Itu ditandai dengan pendirian pembangkit listrik ketujuh pada Januari 2018. Harapannya semua itu akan mampu menghasilkan energi listrik hingga 40 megawatt (MW).

Pembangkit listrik tenaga biogas terbaru dari Asian Agri itu berada di Provinsi Jambi tepatnya di kawasan Tungkal Ulu. Unit bisnis bagian RGE itu meresmikannya pada 24 Januari 2018 lalu.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan hadir untuk meresmikannya. Ia mengapresiasi langkah Asian Agri dalam mendirikan pembangkit listrik terbarukan yang ramah terhadap alam.

“Harapannya ke depan setiap ada pabrik pengolahan CPO (crude palm oil, Red.) akan ada pembangkit listrik yang dibangun,” kata Jonan seperti dilaporkan oleh Kompas.com.

Sama seperti yang lebih dulu dibangun, kapasitas pembangkit listrik tenaga biogas Tungkal Ulu mencapai 2,2 MW. Dari listrik yang dihasilkan, 700 kilowatt di antaranya digunakan untuk proses produksi Asian Agri. Sisa kelebihan energi listrik sebesar 1,5 MW dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat yang berada di sekitar lingkungan pabrik Asian Agri.

Hal ini selaras dengan filosofi bisnis Royal Golden Eagle yakni memberi manfaat kepada masyarakat dan negara.

Langkah yang diambil oleh Asian Agri semakin menekan penggunaan energi fosil yang tidak ramah lingkungan di perusahaannya.

Hal ini semata demi menjaga kelestarian alam. Pasalnya, energi biogas yang mereka gunakan jauh lebih aman untuk alam dibanding energi fosil. Dengan demikian Asian Agri ikut menjaga keseimbangan iklim.

 

MEMANFAATKAN LIMBAH PRODUKSI

Memanfaatkan Limbah ProduksiSource: Inside RGE

Hingga saat ini, Asian Agri sudah mendirikan tujuh pembangkit tenaga listrik biogas. Keberadaannya tersebar di tiga provinsi, yakni Jambi, Sumatra Utara, dan Riau.

Langkah ini rupanya merupakan manuver pintar oleh Asian Agri. Dalam mendapatkan energi listrik tenaga biogas, mereka mengelola limbah produksinya.

Hal itu ditegaskan oleh Head of Operation Asian Agri, Bukit Sanjaya. Ia menandaskan bahwa upaya untuk membangun pembangkit listrik tenaga biogas sebagai bagian dari zero waste management.

Dikatakannya selama ini terdapat persepsi yang salah tentang industri kelapa sawit. Mereka dicitrakan sebagai pemicu pemanasan global karena pengolahan limbah yang buruk. Asian Agri membuktikan pandangan tersebut salah karena pihaknya mampu mengolah limbah menjadi energi listrik yang berguna.

“Oleh sebab itu, agar industri kelapa sawit berkelanjutan, Asian Agri mengolah limbah cair menjadi energi listrik,” ucap Bukit di Kompas.com.


Dalam proses pengolahan kelapa sawit memang dihasilkan limbah yang dikenal sebagai Palm Oil Mill Effluent (POME). Ini merupakan limbah cair sebagai sampingan produksi.

Selama ini, Asian Agri sudah melakukan pengolahan POME. Mereka memanfaatkannya sebagai bagian dari Land Application untuk perkebunan kelapa sawit. POME mulanya difungsikan sebagai subsitusi pupuk, penjaga kelembapan tanah, serta berguna sebagai penahan erosi  bagi tanaman sawit.

Ternyata Asian Agri menemukan pemanfaatan lebih lanjut POME. Mereka bisa mengolahnya sebagai sumber energi listrik tenaga biogas. Memanfaatkan teknologi dari Jepang, limbah cair kelapa sawit diproses sedemikian rupa menjadi listrik.

Dengan demikian, misi Asian Agri untuk meminimalkan jumlah limbah bisa tercapai. Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini bisa mencegah limbah terbuang percuma dan mencemari lingkungan.

Perlu diketahui, kalau tidak ditangani dengan baik, POME bisa merusak alam. Limbah ini bisa menghasilkan gas metana. Jika dilepas ke udara, ini akan berbahaya karena memicu efek rumah kaca. Hal inilah yang menjadi dasar kemunculan pemanasan global.

Namun, Asian Agri bisa menangkap gas metana itu menjadi sumber energi listrik biogas. Akibatnya tidak ada zat berbahaya yang mereka lepaskan dari proses produksi.

Pembangkit listrik tenaga biogas ini juga disambut baik oleh pemerintah. Secara tidak langsung, Asian Agri membantu pemerintah untuk mencapai target persentase energi terbarukan di dalam bauran energi. Sampai 2025, Indonesia berencana sudah ada 23 persen energi terbarukan dalam total bauran energi.

Misi itu sejalan pula dengan upaya membuat energi terbarukan dengan harga terjangkau. Target itu ingin direalisasikan bersama dengan upaya menekan pelepasan emisi ke udara.

Tak heran, langkah Asian Agri diapresiasi. Pada 2017 lalu, putusan untuk mendirikan pembangkit listrik tenaga biogas mendapat penghargaan di Anugerah Energi Lestari 2017.

Asian Agri mendapat apresiasi dalam kategori Perusahaan yang membangun PLTBg terbanyak. Ini merupakan momen spesial karena Anugerah Energi Lestari merupakan apresiasi khusus dari pemerintah kepada sejumlah kelompok masyarakat, swasta, pemerintah dan pemerintah daerah yang dianggap memiliki kepedulian terhadap upaya pelestarian energi di wilayah masing-masing.

Asian Agri merupakan anak perusahaan Royal Golden Eagle yang termasuk salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Per tahun, mereka sanggup menghasilkan satu juta ton minyak kelapa sawit.

Saat ini, unit bisnis bagian dari grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini tengah berupaya mewujudkan komitmen One to One. Ini adalah usaha untuk menyamakan lahan perkebunan yang dikelola sendiri dengan yang ditangani oleh para petani. Hal ini mendasari kerja sama antara Asian Agri dengan petani baik petani swadaya maupun petani plasma.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*